Pertamina resmikan lifting perdana pertamax ke Kertapati

Pewarta : id Pertamina Marketing Operation Region II Sumatera, Pertamina, Peresmian lifting, pertamax, GM Pertamina RU III, GM Pertamina MOR II Sumbagsel, Eman Sal

Pertamina terapkan alat tera mobil tangki BBM (Foto antarasumsel.com/Evan/15)

Palembang(ANTRA Sumsel) - Pertamina Refinery Unit III bersama Pertamina Marketing Operation Region II Sumatera bagian Selatan meresmikan lifting perdana produk pertamax melalui jaringan pipa RU III ke Terminal Bahan Bakar Minyak Kertapati MOR II.

Peresmian lifting perdana produk pertamax ke Terminal Bahan Bakar Minya (TBBM) Kertapati itu dilakukan oleh GM Pertamina RU III, Eman Salman Arief dan GM Pertamina MOR II Sumbagsel, Herman M Zaini di Palembang, Kamis.

Peresmian lifting perdana produk Pertamax melalui jaringan pipa (pipeline) ini ditandai dengan menekan tombol metering dan membuka kerangan pipa secara simbolis yang dilakukan oleh GM Pertamina RU III dan GM Pertamina MOR II Sumbagsel.

Menurut Eman, pada tahun 2016 ini terdapat peningkatan produksi pertamax di Pertamina RU III yang sejalan dengan peningkatan demand pertamax di area Sumbagsel.

"Melihat kondisi tersebut, untuk mendukung fleksibilitas operasional terutama dalam hal kecepatan distribusi produk pertamax, Pertamina RU III berinovasi dengan melakukan lifting produk pertamax RU III via pipeline ke TBBM Kertapati MOR II," katanya.

Ia mengatakan, lifting dan produksi pertamax dilakukan secara kontinue di Pertamina RU III sebesar 90 MB per bulan untuk kemudian disalurkan ke TBBM Kertapati melalui sarana pipeline dapat memudahkan dari sisi operasional, mengurangi losses, meningkatkan cost effectiveness maupun kecepatan penyaluran yang tidak terkendala waktu jika dibandingkan penyaluran melalui kapal tongkang seperti dilakukan selama ini.

Produk pertamax ini, selanjutnya akan disalurkan dari TBBM Kertapati ke seluruh depot Pertamina di wilayah Sumbagsel, ujarnya.

Ia menyatakan, lifting dan penyaluran pertamax melalui pipa ini juga menjadi wujud komitmen Pertamina dalam memenuhi security of supply khususnya di daerah Sumbagsel melalui sinergi yang terjalin bersama antara RU III dengan MOR II.

"Penyaluran produk pertamax melalui pipeline ke TBBM Kertapati merupakan salah satu bentuk inovasi berupa kemudahan dan fleksibilitas operasional untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan pasar domestik di wilayah Sumbagsel yang semakin meningkat, khususnya bagi konsumen menginginkan kualitas gasoline atau bensin terbaik," tuturnya.

Hal yang sama disampaikan Herman, dengan meningkatnya demand pertamax di wilayah Sumbagsel khususnya di Sumsel saat ini dengan konsumsi rata-rata harian sebesar 127 KL, produksi dan penyaluran pertamax melalui jaringan pipa ke TBBM Kertapati mampu membantu pemenuhan supply bahan bakar itu di Sumbagsel.

Ia menyatakan, di tengah kondisi harga minyak dunia yang semakin menurun, unit bisnis hilir Pertamina menjadi tumpuan perusahaan untuk meningkatkan revenue dan memperoleh margin.

Oleh karena itu, kolaborasi dan sinergi Pertamina RU III dan MOR II (RUMOR 32) harus terus ditingkatkan untuk mencari celah-celah inovasi yang dapat mengefisienkan proses bisnis dan meningkatkan margin Pertamina, ujarnya.

Penyaluran produk pertamax melalui pipa dapat secara maksimal menekan cost sewa kapal yang selama ini digunakan untuk penyaluran ke TBBM Kertapati.

Hal ini turut mendorong cost efficiency dan menekan supply losses produk pertamax yang disalurkan.

"Di samping itu, dengan new gantry system (NGS) yang telah diterapkan di TBBM Kertapati, kami menjamin distribusi pertamax dapat lebih tepat ukuran dan aspek safety juga menjadi lebih aman," paparnya.

Ke depan, Pertamina RU III dan MOR II akan terus berkomitmen dalam mengoptimalkan kinerja unit bisnis hilir khususnya dalam produksi bahan bakar khusus agar mampu memberikan jaminan ketersediaan produk BBK.

Khususnya pertamax di wilayah Sumbagsel dengan tetap mengedepankan aspek safety dan operational excellence dalam proses produksi hingga penyaluran produk ke konsumen, katanya.
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar