"Urban genitals" tampilkan Ambon dari beragam sisi

Pewarta : id Urban Genitals, puisi, foto, lukisan, Bengkel Sastra Maluku, Paparisa Ambon Bergerak, Tesart Siahaya, Petra Ayowembun, Akbar Marasabessy

Pameran Urban Genitals digelar para seniman muda di Kota Ambon, Sabtu (6/5) (Shariva Alaidrus)

Ambon (Antarasumsel.com) - Pameran "Urban Genitals" menampilkan pesona Kota Ambon dan geliat kehidupan di dalamnya dari beragam sisi melalui puisi, foto, dan lukisan dengan sudut pandang yang berbeda, Sabtu.

Kegiatan tersebut digelar anak-anak muda kreatif dari Bengkel Sastra Maluku, Paparisa Ambon Bergerak, dan Discover Maluku, Pameran "Urban Genitals" menampilkan beragam puisi, foto, lukisan karya sejumlah sastrawan, pelukis dan fotografer lokal, seperti Tesart Siahaya, Petra Ayowembun, Akbar Marasabessy dan Morika Tetelepta.

Mengandalkan media limbah olahan seperti kayu, triplek dan manekin bekas sebagai pigura, masyarakat disuguhkan karya-karya sastra dan seni rupa dua dimensi yang mengangkat potret kehidupan sehari-hari di Ambon, mulai dari sampah, musik, hingga pesona pemandangan Kota Ambon.

Dipajang di sepanjang tembok lorong Indojaya selama dua hari, 5 - 6 Mei 2017, karya-karya seni dan sastra tersebut serasa cukup "menyetil" dengan tema-tema beragam.

Lukisan milik Tesart Siahaya misalnya, ia memoret sosok perempuan muda Ambon masa kini, berpenampilan modis dengan kedua tangan yang "sibuk" menenteng tas, telepon genggam, dan gelas minuman.

Karya lainnya yang tak kalah menyentil adalah "Potret Perempuan Maluku". Seni rupa dua dimensi menggunakan manekin plastik setengah badan yang dicat berwarna kuning dan hijau itu, dibaliknya tersimpan data kasus kekerasan, baik fisik maupun seksual terhadap perempuan di Maluku sepanjang tahun 2016.

"Kami ingin menghadirkan keseharian Ambon dari darat, udara dan laut, kemarin dan hari ini. Kata, gambar dan benda adalah media yang kami pilih untuk itu," kata Morika Tetelepta dari Bengkel Sastra Maluku.

Ia mengatakan kota sudah semestinya tidak lagi dipahami sebagai lanskap dan wujud pembangunan saja. Kota adalah juga tubuh dan bahasa tubuh adalah bahasa kedalaman. Karenanya, masyarakat harus menembus lapis-lapis permukaan untuk paham sungguh apa yang ada di baliknya.

"Ketegangan antara perempuan dan laki-laki, perilaku beragama, relasi antar manusia, musnahnya ruang hidup dan romantika cinta urban pun ada dalam potret hari ini. Beberapa karya mengenainya sengaja kami bawa untuk dipamerkan sebagai cerita-cerita kecil dari segenap sudut kota," ucapnya.
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar