Pelaku usaha rintisan kerap abaikan pemisahan kas

Pewarta : id perencana keuangan, pembukuan, usaha, akutansi, Hari soul, Motivator keuangan

Ilustrasi- UMKM (ANTARA)

Palembang (ANTARA Sumsel) - Seorang perencana keuangan mengatakan pelaku usaha rintisan kerap mengabaikan pemisahan kas bisnis dan rumah tangga sehingga menjadi salah satu penyebab usahanya menjadi jalan di tempat.

Motivator keuangan Hari `Soul` Putra di Palembang, Selasa, mengatakan, lantaran tidak adanya pemisahan kas ini maka usaha akan sangat tergatung kondisi keuangan keluarga.

"Jika keluarga lagi tidak punya uang, maka ambil uang modal. Lama-lama modal habis, dan usaha tutup. Ini sebagian besar penyebab bangkrutnya usaha rintisan," kata Hari dalam pelatihan asistensi pelaku UMKM kreatif di Palembang.

Seseorang yang sudah memutuskan berbisnis maka sedapat mungkin berdisiplin dalam mengeluarkan uang, baik untuk kebutuhan rumah tangga atau untuk bisnisnya sendiri. Hal ini bertujuan untuk menjaga eksistensi usaha.

Ketika sedang berekreasi bersama keluarga maka seharusnya menggunakan kas pribadi atau tidak boleh menyentuh sama sekali kas perusahaan. Mengapa demikian, karena perusahaan membutuhkan kepastian arus kas demi keberlangsungan usaha.

"Bagaimana cara mendorong perilaku baik ini, ya salah satunya dengan disiplin membuat laporan keuangan," kata dia.

Terkadang, pebisnis merasa membuat laporan keuangan sebagai suatu hal yang tidak perlu karena menilai yang terpenting adalah mengejar laba.

Akibatnya, energi akan tersalur seratus persen pada berbagai kegiatan mengejar laba, sementara pembuatan laporan keuangan diabaikan begitu saja.

Padahal, Harry menegaskan bahwa membuat perencanaan bisnis sama pentingnya dengan membuat aksi bisnis.

"Belum lagi ketika butuh pinjaman uang untuk tambahan modal, tentunya pihak bank ingin melihat rekam jejak usaha yang dapat diamati dari laporan keuangan," kata dia.

Kasubag Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif Eka Pan Lestari mengatakan hanya 20 persen dari pelaku usaha UMKM yang membuat laporan keuangan.

Oleh karena itu, pemerintah menargetkan sebanyak 2.000 pelaku usaha mengikuti pelatihan pada 2017, sejauh ini telah tercapai 1.300 orang.

"Akses modal sejauh ini berasal dari bank, jadi kami mendorong mereka agar bankable, sementara dari pihak bank kami juga mendorong mereka benar-benar memahami UMKM kreatif sehingga tidak serta-serta membuat penilaian yang sama," kata dia.

Pemerintah melalui Bank Indonesia telah mengeluarkan aplikasi berbasis android Si APIK yang dapat digunakan kalangan UMKM membuat laporan keuangan.
Editor: Ujang
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar